Ketua Umum Perpani Mimika Kerry Yarangga bersama anggota komunitas panahan

  • Whatsapp
Ketua Umum Perpani Mimika Kerry Yarangga bersama anggota komunitas panahan saat melakukan latihan memanah di Lapangan Bola Karpet, Kuala Kencana (Foto: Anya/SP)

TIMIKA | Nemangkawi Archery School dan Tembagapura Archery Club’ yang tergabung dalam Persatuan Panahan Indonesia (PERPANI) Kabupaten Mimika,  Papua menggelar latihan bersama di Lapangan Bola Karpet, Kuala Kencana, Timika, Sabtu (26/1).

Cabang olahraga yang juga merupakan senjata tradisional masyarakat Papua ini, kini mulai digandrungi oleh komunitas di Mimika.

Ketua Umum Perpani Mimika, Kerry Yarangga mengatakan, Ia ingin agar masyarakat Mimika mengenal panahan sebagai hobi baru. Selama ini panahan dikenal senjata untuk berburu membela diri hingga berperang.

Latihan ini juga dilakukan untuk seleksi atlet panahan yang akan mengikuti turnamen tingkat Provinsi bulan Februari mendatang di Jayapura sebagai persiapan atlit untuk PON 2020 mendatang.

“Saya ingin mengajak masyarakat Mimika merubah stigma panahan bagi kita di Kabupaten Mimika , dari kebiasaan memanah mahluk hidup menjadi memanah prestasi, bergantung dari cara pandang kita masing-masing” kata Kerry.

Salah satu anggota Nemangkawi Archery School, Mayang Sari Takbir mengaku telah bergabung dengan komunitas panahan ini sejak 2018 lalu. Ia mengaku, awalnya Ia berfikir bahwa memanah adalah hal yang mudah, ternyata Ia salah.

“Saya pikir mudah tinggal lepas saja, ternyata harus sinkron antara otak dan tenaga. Saya ikut latihan hampir hari di Halaman Masjid Babussalam,” katanya.

Kata dia, panahan merupakan olahraga yang cukup mahal baginya. Dimana ia harus mengeluarkan biaya lebih dari satu juta rupiah hanya untuk memilik alat panahan (bow) dan 500-600 ribu untuk satu lusin anak panah yang terbuat dari bambu.

“Saya sendiri pesan di pelatih, karena harus sesuaikan dengan tinggi badan dan kekuatan menarik. Kekuatan menarik saya dulu 22 kemudian naik 26. Sekarang kekuatan menarik saya sudah 30 LBS,” ungkapnya.

Meski demikian, Mayang merasa olahraga panahan ini tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah. Yang mana komunitasnya masih terkendala terutama di lokasi latihan.

“Saya harap Pemerintah Daerah bisa lebih memperhatikan olahraga panahan ini. Peluang memanah disini sangat besar, apalagi untuk saudara kita yang asli Amungme dan Kamoro,” tuturnya. (Nft/SP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *